| Kota Langsa |
Setelah Kabupaten Aceh Timur melepaskan Kota Langsa pada tahun 2001 menjadi kota tersendiri, Kota Langsa dari tahun 1997-2001 (setelah datanya dipisahkan dari Kabupaten Aceh Timur), sektor perekonomian Kota Langsa terdiri atas perdagangan, industri, dan pertanian. Semula struktur ekonomi didominasi oleh industri pengolahan terutama industri pengolahan kayu. Pabrik penggergajian dan pengolahan kayu di kota ini merupakan kawasan industri kayu olahan dan kayu lapis terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bahan baku industri perkayuan didatangkan dari lokasi penebangan hutan seperti Kabupaten Aceh Timur, Aceh Singkil, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Pidie.Sejak lama Langsa dikenal sebagai pusat perdagangan dan jasa, khususnya hasil bumi dari Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan paling banyak dari Medan, Sumatera Utara. Peran sebagai kota otonom sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Timur mendatangkan keuntungan bagi Kota Langsa. Dua kegiatan perekonomian daerah otonom menyatu di satu tempat menyebabkan Langsa berpotensi memacu bidang perdagangan dan jasa. Meskipun ibu kota Kabupaten Aceh Timur tidak lagi bertempat di Langsa, perdagangan dan jasa masih bisa menjadi sektor unggulan. Tahun 2001 lapangan usaha perdagangan dari kecamatan-kecamatan yang kemudian membentuk Kota Langsa ini menyumbang 43 persen bagi perdagangan Aceh Timur. Barang-barang kebutuhan pokok dan barang pertanian yang didistribusikan dari daerah diserap oleh tiga pasar pemerintah, sembilan pasar desa, dan 80 kelompok pertokoan yang tersebar di lima kecamatan dengan sekitar + 6.700 orang bergerak di dalamnya. Lapangan usaha perdagangan semakin menonjol karena banyak perusahaan perdagangan mengajukan permintaan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Pada tahun 2002 setidaknya 8 perusahaan besar, 27 perusahaan menengah, dan 202 perusahaan kecil yang memiliki SIUP. Kota Langsa juga memiliki pelabuhan Kuala Langsa dengan kapasitas ekspor-impor. Pelabuhan yang terletak di Kecamatan Langsa Kota ini menyimpan peluang besar memacu pergerakan perekonomian Kota Langsa. Sebelum terjadi konflik, Pelabuhan Kuala Langsa menjadi tempat ”pengapalan” beberapa komoditas ekspor seperti udang beku, arang kayu bakau, hasil laut, dan pertanian dari daerah sekitar Aceh dan Sumatera Utara. Arang kayu bakau yang dihasilkan dari pesisir pantai Langsa dan Kabupaten Aceh Timur masih aktif ”dikapalkan” dari Pelabuhan Kuala Langsa ini. Pengapalan komoditas yang nilainya tinggi seperti minyak sawit mentah dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, serta udang beku dilakukan lewat Pelabuhan Belawan, Medan. Minyak sawit mentah tersebut dikirim ke Korea, sedangkan udang beku ke Jepang, Inggris, dan Belgia. Udang windu yang kemudian dibekukan ini sebagian diperoleh dari tambak udang yang tersebar di seluruh kecamatan dan sebagian didatangkan dari tambak pesisir di Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Kondisi perikanan Kota Langsa cukup potensial dikembangkan. Selain udang windu, dibudidayakan pula udang putih dan udang apiapi. Langsa juga membudidayakan ikan jenis ekonomis tinggi. Potensi ekonomi di Kota Langsa masih belum tertangani dengan baik. Sementara ini Pemerintah Kota Langsa masih memprioritaskan diri pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, baik masyarakat maupun aparatur pemerintahan. Sementara itu, warga penuh semangat membangun rumah toko (ruko) di sepanjang jalan utama. Seolah tak ada tempat layak selain tepi jalan protokol dijadikan kompleks ruko di Langsa. Namun, pembangunan terus bergeliat di Langsa. Karena itu, dalam rancangan induk pengembangan Pelabuhan Langsa, Pemerintah Kota merencanakan pelabuhan itu sebagai pelabuhan transit terpadu untuk seluruh industri di sekitarnya. Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tamiang merupakan daerah perkebunan, terutama kelapa sawit Pohon Karet. Tiadanya pabrik minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dipandang Pemkot Langsa sebagai peluang bisnis. Kota Langsa merupakan kota pesisir yang memiliki garis pantai 16 kilometer (km). Penduduk yang sangat heterogen terdiri dari Aceh, Jawa, Melayu, Gayo Batak, dan Karo hanya berjarak sekitar 246 km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara, Medan, menyebabkan Langsa memiliki banyak kemiripan dengan Medan. Jarak tempuh yang hanya tiga jam perjalanan darat, menyebabkan warga Langsa lebih senang bepergian ke Medan daripada ke Banda Aceh. Oleh karena itu, pemberlakuan Syariat Islam yang merupakan bagian dari otonomi khusus Provinsi NAD tidak terlalu kentara di Langsa. Pemandangan perempuan yang tidak berjilbab di seluruh Langsa merupakan hal lumrah. Langsa merupakan kota kecil dengan keramaian yang terpusat di dua titik. Jalan Teuku Umar sebagai pusat pertokoan dan pasar tradisional selalu ramai sejak pagi sampai malam hari. Demikian juga Jalan Ahmad Yani, Jalan protokol dua jalur yang membelah kota ini selalu dipadati warga. Warung kopi di sepanjang jalan menyusun kursi santai sampai emperan toko sehingga warga dapat bersantai sambil memperhatikan orang lalu lalang. Di malam hari, pusat keramaian beralih ke dua tempat lain, yaitu bekas kompleks stasiun kereta api depan taman kota dan pelataran parkir pusat pasar Kota Langsa. Kedua tempat itu merupakan pusat jajanan. Seiring mulai kondusifnya wilayah kota, warga dapat kembali bersantai di sana. Seperti kota lain di Aceh, Langsa tidak memiliki fasilitas hiburan untuk memenuhi kebutuhan warganya.
|
Laporan Tahunan
Laporan Tahunan "Perkembangan Hukum Dan HAM Di Aceh Tahun 2006"
Setelah Kabupaten Aceh Timur melepaskan Kota Langsa pada tahun 2001 menjadi kota tersendiri, Kota Langsa dari tahun 1997-2001 (setelah datanya dipisahkan dari Kabupaten Aceh Timur), sektor perekonomian Kota Langsa terdiri atas perdagangan, industri, dan pertanian. Semula struktur ekonomi didominasi oleh industri pengolahan terutama industri pengolahan kayu. Pabrik penggergajian dan pengolahan kayu di kota ini merupakan kawasan industri kayu olahan dan kayu lapis terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bahan baku industri perkayuan didatangkan dari lokasi penebangan hutan seperti Kabupaten Aceh Timur, Aceh Singkil, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Pidie.
















