| Bangsal Mewah Untuk Caleg Stress |
SIAPA yang tidak menjadi miris mendengar tawaran sebuah rumah sakit terdepan di Kota Solo bahwa pasca pemilu legislatif 2009 akan terjadi sejumlah besar caleg yang gagal terpilih, dan menjadi orang yang stres. Apapun yang menyebabkan terjadi kegagalan itu dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai ekses dan akibat yang tidak diharapkan. Salah satu yang dicemaskan adalah terkait dengan kesiapan caleg menerima hasil akhir proses pemilihan.Tawaran “Bangsal Mewah Untuk Caleg Stress” yang disiarkan melalui sebuah TV swasta itu agaknya perlu menjadi renungan kita. Bagi caleg yang sudah menguras tenaga dan keringat, bahkan memerah kocek yang tidak sedikit tentu ada harapan yang dipertaruhkan. Tingkah caleg demi perebutan kursi, dalam liputan Media Indonesia (22-3-09) ditempuh dengan berbagai cara. Ada caleg yang mendanai kegiatan kampanye dengan berkorban menggadaikan sertifikat tanah dan rumah, bahkan menjual harta mereka. Menurut catatan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Mobil Sumatera Selatan, bahwa dalam empat bulan terakhir banyak caleg yang menjual kendaraan mereka ke showroom mobil bekas. Akan tetapi sambungnya, caleg menyewa kembali mobil yang mereka jual. Menurutnya, pola itu dilakukan untuk membuat caleg itu tidak kentara kalau ia sudah hampir bangkrut. Masih menurut Media Indonesia, ada anggota DPRD Sumsel, yang enggan disebut namanya, mengaku harus menggadaikan pin emas DPRD karena kehabisan dana untuk berkampanye. Padahal, dirinya telah menyediakan dana sekitar Rp100 juta untuk menutupi berbagai keperluan. Besarnya kebutuhan dana yang diperlukan itu juga dilaporkan oleh Manager Cabang Forum Pegadaian Pekanbaru Kota, Windra Yesofa. Untuk mengatisipasi lonjakan transaksi, katanya, Pegadaian menyiapkan dana cadangan mencapai Rp12 miliar. Jumlah itu jauh meningkat dari rata-rata setiap bulannya yang hanya sebesar Rp9 miliar. Fakta-fakta ini adalah sekadar contoh betapa kesibukan yang terjadi bersamaan dengan persiapan pemilu legislatif di negeri kita. Untuk ukuran biaya yang lebih besar, masih dalam keperluan kampanye politik, menurut konsultan politik Partai Demokrat, Choel Mallarangeng, seperti dilaporkan Media Indonesia, Partai Demokrat menyiapkan dua pesawat. Disamping pesawat Garuda juga pesawat Fokker-100 milik Trans Wisata Air. Tarif sewa Fokker-100 dicatat sebesar US$7.500 per jam (atau Rp90 juta dengan kurs US$= Rp12 ribu) per jam. Jumlah itu belum termasuk biaya ground handling, PPN dan round trip (biaya menginap) yang memakan biaya sebesar US$500 (sekitar Rp6 juta) per hari. Partai Golkar juga mencarter Boeing 737-300 yang berlabel Nusantara Air Carter. Pesawat berkapasitas 102 orang itu disewa selama 20 hari masa kampanye pemilu legislatif. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ketua PAN Sutrisno Bachir, Ketua Pembina Gerindra Prabowo Subianto, dan Ketua Umum Partai Persatuan Daerah Oesman Sapta. Dan mungkin banyak lagi yang lain. Kalau yang mengeluarkan ongkos pemilu ini orang-orang besar mungkin dampaknya tidak terlalu besar. Karena memang mereka sudah besar. Akan tetapi kalau yang terjadi bagi caleg yang pas-pasan, tetapi memaksakan diri dengan cara-cara yang tidak benar dan tidak wajar, maka sindiran tentang “Bangsal Mewah Untuk Caleg Stres” perlu menjadi perhatian. Kita tidak mengharapkan kegairahan politik ini, kemudiannya menimbulkan efek yang merugikan kehidupan kita, baik pribadi, masyarakat, bangsa maupun negara. Apapun hasil pemilu itu nantinya caleg-caleg kita diharapkan menjadi lebih dewasa, tidak berobah menjadi orang-orang yang egois dan mementingkan diri sendiri. Keseimbangan emosi dan rasio benar-benar diperlukan. Mantan Ketua MK Jimly Ashshidiqie, menilai sebahagian besar tokoh yang terlibat dalam pemilu hampir semuanya berpikir sendiri-sendiri supaya menang. Mulai presiden, wakil presiden, menteri, hingga caleg sibuk berfikir dirinya masing-masing. Pada hal katanya, Pemilu 2009 merupakan momentum yang sangat penting bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Pemilu ini akan menjadi penutup masa transisi, setelah itu pasti akan terjadi konsolidasi sistem politik kita. Dengan menyebut yang terburuk, mudah-mudahan yang baik akan datang.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
||||||||||
SIAPA yang tidak menjadi miris mendengar tawaran sebuah rumah sakit terdepan di Kota Solo bahwa pasca pemilu legislatif 2009 akan terjadi sejumlah besar caleg yang gagal terpilih, dan menjadi orang yang stres. Apapun yang menyebabkan terjadi kegagalan itu dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai ekses dan akibat yang tidak diharapkan. Salah satu yang dicemaskan adalah terkait dengan kesiapan caleg menerima hasil akhir proses pemilihan.














